Senin, 17 Agustus 2009

(Long Life Education)

KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
(Long Life Education)

A. MUQADIMAH
Pendidikan merupakan suatu proses berkelanjutan yang mengandung unsur-unsur pengajaran, latihan, bimbingan dan pimpinan dengan tumpuan khas kepada pemindahan berbagai ilmu, nilai agama dan budaya serta kemahiran yang berguna untuk diaplikasikan oleh individu (pengajar atau pendidik) kepada individu yang memerlukan pendidikan itu.
Kegiatan pendidikan adalah kegiatan yang menjembatani antara kondisi-kondisi actual dengan kondisi-kondisi ideal, dan ini berlangsung dalam satuan waktu tertentu dan berbentuk dalam berbagai proses pendidikan yang merupakan serangkaian kegiatan atau langkah-langkah yang digunakan untuk mengubah kondisi awal peserta didik sebagai masukan menjadi kondisi ideal sebagia hasilnya .
Untuk lebih memperdalam pengtahuan tentang pendidikan ini, maka akan dikutibkan beberapa difinisi pedidikan dari para ahli yang berkompeten dalam bidang ini,
Pakar pendidikan dari Amerika yakni John Dewey, berpandangan bahwa pendidikan ialah satu proses membentuk kecenderungan asas yang berupa akaliah dan perasaan terhadap alam dan manusia .
Prof. Horne, yang juga tokoh pendidik Amerika, berpendapat bahwa pendidikan merupakan proses abadi bagi menyesuaikan perkembangan diri manusia yang merangkumi aspek jasmani, alam, akliah, kebebasan dan perasaan manusia terhadap Tuhan sebagaimana yang ternyata dalam akliah, perasaan dan kemahuan manusia .
Herbert Spencer, seorang ahli falsafah Inggeris (820-903 M), memiliki pandangan bahwa pendidikan ialah mempersiapkan manusia supaya dapat hidup dengan ke hidupan yang sempurna. Sedangkan pakar pendidikan Indonesia yang juga Mantan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan RI, Drs Fuad Hassan saat menjadi pembicara kunci pada seminar nasional "Rekonstruksi dan Revitalisasi pendidikan Indonesia Menuju Masyarakat Madani", di Widya Graha Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jln. Gatot Subroto Jakarta, berpendapat, pendidikan dalam arti luas merupakan ikhtiar yang ditempuh melalui tiga pendekatan, yaitu pembiasaan, pembelajaran, dan peneladanan. Ketiga aspek itu berlangsung sepanjang perjalanan hidup manusia.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut diatas, maka dapat dipahami bahwa pendidikan ialah proses melatih akal, jasmaniah dan moral manusia (peserta didik) untuk melahirkan warganegara yang baik serta menuju ke arah kesempurnaan bagi mencapai tujuan hidup.

B. SILSILAH HADIST, LONG LIFE EDUCATION
Islam mengajarkan menuntut ilmu itu berlangsung seumur hidup dan tidak ada batasan waktu dalam mencarinya, muslim yang tua, muda, pria atau wanita, kaya dan miskin wajib atasnya untuk menuntut ilmu, karena ''Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap Muslim.'' (HR Thabrani).
Dan bahkan wahyu yang pertama kali turun kepada Rasulullah merupakan uswah pertama dalam menuntut ilmu, wahyu pertama yang beliau terima adalah perintah untuk menjadi orang berilmu melalui membaca (iqro’) , hal ini benar-benar menunjukan bahwa Islam mengajak dan memerintahkan kita untuk menjadi orang yang berilmu, yang salah sau jalannya adalah dengan terus belajar, sabda Rasulullah: "Barangsiapa melalui suatu jalan untuk mencari suatu pengetahuan (Agama), Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." Dan beliau S.a.w juga bersabda: "Sesungguhnya ilmu itu hanya diperoleh dengan belajar”.
Sehubungan dengan anjuran untuk terus menuntut ilmu ini terdapat beberapa hadist yang cukup populer dikalangan umat Islam, yang juga menjadi landasan teologis konsep “long life education”. Hadist–hadist inilah yang menjadi pokok kajian dari makalah ini.

a) Teks Hadist
وتعالى من النطق وقبول تعلم الآداب والعلوم ان يهمل نفسه ويعريها من الفضائل وقد حث الشارع عليه الصلاة والسلام على اكتسابه حيث قال طلب العلم فريضة وقال
اطلبوا العلم من المهد الى اللحد
اطلبوا العلم ولو بالصين
فتح واعلم ان الإنسان مطبوع على التعلم لان فركه هو شبب امتيازه عن سائر الحيوانات ولما كان فكر راغبا بالطبع في تحصيل ما ليس عنده من الادراكات لزمه الرجوع الى ما شبقه بعلم فيلقن ما عنده ثم ان فكره يتوجه الى واحد من الحقائق وينظر ما يعرض له لذاته واحد بعد واحد ويتمرن عليه حتى يصير الحاق العوارض بتلك الحقيقة ملكة له فيكون علمه حينئذ بما يعرض لتلك الحقيقة علما مخصوصا ويتشوق نفوس أهل القرن الثاني الى تحصيله فيفزعون الى أهله فتح وكل تعليم وتعلم ذهني انما يكون بعلم سابق في معلوم ما من عالم لمن ليس بعالم وقد يكون بالطبع مستفادا من وقائع الزمان بتردد الأذهان ويسمى علما تجريبيا وقد يكون بالبحث واعلمال الفكر ويسمى علما قياسيا والعلم محصور في التصور والتصديق والتصور يطلب بالأقوال الشارحة والتصديق يكون عن مقدمات في صور القياسات للنتائج فقد يحصل به اليقين وقد لا يحصل الا اقناع وقدموا في التعليم ما هو أقرب تناولا ليكون سلما لغيره وجزت سنة القدماء في التعليم مشافهة دون كتاب لئلا يصل علم مستحقه ولكثرة المشتغلين بها فلما ضعفت الهمم الشاة في تدوين العلوم وضنوا ببعضها فاستعملوا الرمز واختصروا من الدلالات علىالالتزام فمن عرف مقاصدهم حصل على اغراضهم فتح واعلم ان جميع المعلومات انما تعرف بالدلالة عليها بأحد الأمور الثلاثة الإشارة واللفظ والخط والإشارة تتوقف على المشاهد واللفظ يتوقف على حضور المخاطب وسماعه واما الخط فلا يتوقف على شيء فهو اعمها نفعا واشرفها وهو خاصة النوع الانساني فعلى المتعلم ان يجوده ولو بنوع منه ولا شك انه بالخط والقراءة ظهرت خاصة النوع الانساني من القوة الى الفعل وامتاز عن سائر الحيوان وضبطت الأموال وحفظت العلوم والكمال وانتقلت الاخبار من زمان الى زمان فجبلت غرائز القوابل على قبول الكتابة والقراءة لكن السعي لتحصيل الملكة وهو موقوف على الاخذ والتعلم والتمرن والتدرب فتح واعلم ان العلم والنظر وجودهما بالقوة في الإنسان فيفيد صاحبها عقلا لان النفس الناطقة وخروجها من القوة



b) Sumber Kutiban Hadist
اسم الكتاب :: كشف الظنون عن أسامي الكتب والفنون
اسم المؤلف :: مصطفى بن عبدالله القسطنطيني الرومي الحنفي
ولادة المؤلف :: 1017
وفاة المؤلف :: 1067
دار النشر :: دار الكتب العلمية
مدينة النشر :: بيروت
سنة النشر :: 1413 - 1992
عدد الأجزاء :: 2

c) Teks Hadist tentang Belajar Seumur Hidup
1) Naskah Hadist
اطلبوا العلم من المهد الى اللحد
Artinya: “Tuntutlah Ilmu Dari Buaian Sampai Liang Lihat”.
Penjelasan:
Hadits dengan redaksi diatas, tidak terdapat dalam kitab-kitab hadist, baik dalam Shahih Al-Bukhariy, Muslim, Ash-haabus Sunan ataupun yang lainnya, tetapi terdapat dalam kitab Kasyfuzh Zhunuun (1/51), yang tidak disebutkan sanad dan derajat keabsahannya, sehingga hadits tersebut tidak bias dikatakan hadist (bukan hadits), melainkan pepatah Arab, dan atau jika dikatakan sebagai hadits maka derajatnya sangat dhoif, karena sanad yang tidak diketahui dari mana asalnya.
Kualitas Hadist
Dengan demikian maka hadits yang disebutkan diatas, tergolong dalam kategori hadist maudhu (palsu).Sedangkan yang shahih adalah atsar yang diucapkan oleh 'ulama salaf seperti Al-Imam Ahmad bin Hambal, yang mengatakan: "Sesungguhnya aku menuntut ilmu sampai aku masuk kubur." dan ucapan 'ulama lainnya .


2) Naskah Hadis
اطلبوا العلم ولوبالصين
Artinya: “Tuntutlah ilmu sekalipun ke negeri Cina."
Penjelasan:
Redaksi seperti yang disebutkan dalam hadist diatas diriwayatkan Ibnu Addi dalam Al-Kamil (207/2), Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihan (2/106), Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad (9/364), Al-Baihaqiy dalam Al-Madkhol (241/324), Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami’ (1/7-8), dan sebagainya, yang kesemuanya dengan sanad dari al-Hasan bin Athiyah, dari Abu Atikah Tharif bin Salman, dari Anas bin Malik r.a. Kemudian semuanya menambahkan lafazh “fa inna thalabal ilmi faridlatun 'ala kulli muslimin”
Ibnu Adi berkata, tambahan kata “walaw bish Shin” kami tidak mengenalinya kecuali datang dari al-Hasan bin Athiyah." Begitu pula pernyataan al-Khatib dalam kitab Tarikh seperti dikutip Ibnul Muhib dalam al-Fawa'id.
Kualitas Hadist
Kelemahan hadist diatas terletak pada Abu Atikah yang telah disepakati muhadditsin sebagai perawi sanad yang sangat dha'if. Bahkan oleh Imam Bukhari dinyatakan munkar riwayatnya. Begitu pula jawaban Imam Ahmad bin Hambal ketika beliau ditanya tentang Abu Atikah ini.
Tegasnya hadits diatas adalah dhaif jiddan (lemah sekali), bahkan sebagian ahli hadits menghukuminya sebagai hadits batil, tidak ada asalnya. Dan untuk mempertegas kedhoifan hadist diatas, maka akan dinukilkan pendapat ulama ahalul hadist tentang hadist tersebut,
- Ibnul Jauziy –rahimahullah- dalam :Al-Maudhu’at” (1/215) berkata, ‘’Ibnu Hibban berkata, hadits ini batil, tidak ada asalnya’’.
- Syaikh Al-Albaniy –rahimahullah- dalam “Silsilatul Ahaadiits Adh-Dha’iifah” jilid I nomor hadits 416 menilai hadits ini sebagai hadits batil dan lemah.
- As-Suyuthiy dalam “Al-La’ali’ Al-Mashnu’ah” (1/193) menyebutkan dua jalur lain bagi hadits ini, akan tetapi ternyata, kedua jalur tersebut sama dengan hadits di atas, bahkan lebih parah. Jalur yang pertama, terdapat seorang rawi pendusta, yaitu Ya’qub bin Ishaq Al-Asqalaniy. Jalur yang kedua, terdapat rawi yang suka memalsukan hadits, yaitu Al-Juwaibariy.
- al-Sakhawi di dalam “al-Maqasid al-Hasanah” berkata hadist itu lemah,
- al-Zarqani di dalam “Mukhtasar al-Maqasid” mengatakan hadist lemah,
- al-’Ajluni di dalam Kasyf al-Khafa’ mengtakan hadist lemah, di dalamnya ada pendusta.
Ringkasnya, hadits ini batil, tidak boleh diamalkan, dijadikan hujjah, dan diyakini sebagai sabda Nabi S.a.w.

C. URGENSI PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
Dalam GBHN termaktub: “Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan ialah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah”. Ini artinya setiap insan Indonesia dituntut selalu berkembang sepanjang hidupnya. Sementara itu masyarakat dan pemerintah harus menciptakan suasana untuk selalu belajar. Sebab masa sekolah (formal) bukanlah masa “satu-satunya”, tetapi hanya sebagian dari waktu belajar yang berlangsung sepanjang hidup.
Dalam sebuah system oprasional pendidikan seumur hidup ini maka haruslah mencangkup beberapa komponen;
1. Tujuan pendidikan seumur hidup
2. Asumsi-asumsi yang mendasari pendidikan seumur hidup
3. Prinsip-prinsip bimbingan untuk mengembangkan pedidikan seumur hidup
4. Bentuk-bentuk belajar (formal/non formal) kompnen-komponen
Sedangkan mengenai urgensi pendidikan seumur hidup ini Drs H Fuad Ihsan, Pakar pendidikan yang juga mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), dalam buku Dasar-dasar Kependidikan , mengemukakan beberapa dasar pemikiran --ditinjau dari beberapa aspek-- tentang urgensi pendidikan seumur hidup, antara lain:
Pertama, Aspek ideologis, setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, meningkatkan pengetahuan dan menambah keterampilannya. pendidikan seumur hidup akan membuka jalan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi diri sesuai dengan kebutuhan hidupnya.
Kedua, Aspek ekonomis, pendidikan merupakan cara yang paling efektif untuk dapat keluar dari “Lingkungan Setan Kemelaratan” akibat kebodohan. pendidikan seumur hidup akan memberi peluang bagi seseorang untuk meningkatkan produktivitas, memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimilikinya, hidup di lingkungan yang menyenangkan-sehat, dan memiliki motivasi dalam mendidik anak-anak secara tepat sehingga pendidikan keluarga menjadi penting.
Ketiga, Aspek sosiologis, di negara berkembang banyak orangtua yang kurang menyadari pentingnya pendidikan sekolah bagi anak-anaknya, ada yang putus sekolah bahkan ada yang tidak sekolah sama sekali. pendidikan seumur hidup bagi orang tua merupakan problem solving terhadap fenomena tersebut. Aspek politis, pendidikan kewarganegaraan perlu diberikan kepada seluruh rakyat untuk memahami fungsi pemerintah, DPR, MPR, dan lembaga-lembaga negara lainnya. Tugas pendidikan seumur hidup menjadikan seluruh rakyat menyadari pentingnya hak-hak pada negara demokrasi.
Keempat, Aspek teknologis, pendidikan seumur hidup sebagai alternatif bagi para sarjana, teknisi dan pemimpin di negara berkembang untuk memperbaharui pengetahuan dan keterampilan seperti dilakukan negara-negara maju. Aspek psikologis dan pedagogis, sejalan dengan makin luas, dalam dan kompleknya ilmu pengetahuan, tidak mungkin lagi dapat diajarkan seluruhnya di sekolah. Tugas pendidikan sekolah hanya mengajarkan kepada peserta didik tentang metode belajar, menanamkan motivasi yang kuat untuk terus-menerus belajar sepanjang hidup, memberikan keterampilan secara cepat dan mengembangkan daya adaptasi. Untuk menerapkan pendidikan seumur hidup perlu diciptakan suasana yang kondusif.

D. KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU
Sungguh Islam menghargai ilmu pengetahuan dan mewajibkan seluruh ummat Islam untuk mempelajarinya. “ Menuntut ilmu wajib bagi muslimin dan muslimah” begitulah sabda Rasulullah S.a.w, beliau juga sangat menghargai orang yang berilmu, dan mengatakan bahwa orang yang berilmu (ulama) adalah pewaris para Nabi” .
Didalam menuntut ilmu Nabi S.a.w menyuruh agar ummat Islam menuntut ilmu secara berkelanjutan hingga ajalnya, dengan kata lain, seorang muslim haruslah berusaha untuk terus belajar setinggi-tingginya. Jangan sampai kalah dengan orang kafir. Ummat Islam jangan cuma mencukupkan belajar sampai SMA saja, tapi berusahalah hingga Sarjana, Master, bahkan Doktor jika mampu. Dan jika ada yang tak mampu secara finansial, maka menjadi kewajiban kaum muslimin yang berkecukupan untuk membantunya.
Dan apabila kita mengamati kondisi sekarang ini, ternyata tingkat pengetahuan ummat Islam kalah telak dibandingkan dengan orang-orang kafir, hal ini boleh jadi disebabkan karena umat Islam sekarang tidak mengamalkan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh, dan mengabaikan wasiat Rasulullah untuk terus menuntut ilmu. Sementara, orang-orang kafir memiliki tingkat keilmuan yang lebih baik, karena justru merekalah yang mengamalkan ajaran Islam, yakni kewajiban menuntut ilmu setinggi-tingginya.
Dewasa ini akan sangat jarang kita menemukan ilmuwan muslim, sebaliknya, tingkat buta huruf sangat tinggi di negara-negara Islam. Hal itu jelas menunjukkan bahwa kemunduran ummat Islam bukan karena ajaran Islam, tapi karena ulah ummat Islam sendiri yang tidak mengamalkan perintah agamanya.
Jika kita menengok sejarah silam pada awal perkembangan Islam, dimana ketika itu ummat Islam bersedia melaksanakan ajaran untuk menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, giat dan pantang menyerah dalam menuntut ilmu, maka banyak terlahirkan ilmuwan-ilmuwan muslim yang handal, dimana hasil karyanya masih menjadi referensi utama, baik oleh kaum muslim sendiri dan non muslim diseluruh belahan dunia.
Tercatat dalam sejarah, bahwa observatorium pertama didirikan di Damaskus pada tahun 707 oleh Khalifah Amawi Abdul Malik. Universitas Eropa 2 atau 3 abad kemudian seperti Universitas Paris dan Univesitas Oxford semuanya didirikan menurut model Islam. Ketika itu juga lahir ilmuwan muslim, seperti Al-Khawarizmi yang memperkenalkan “Angka Arab” (Arabic Numeral) untuk menggantikan sistem bilangan Romawi yang kaku, yang juga memperkenalkan ilmu Algorithma (yang diambil dari namanya) dan juga Aljabar (Algebra).
Omar Khayam menciptakan teori tentang angka-angka “irrational” serta menulis suatu buku sistematik tentang Mu’adalah (equation). Di dalam ilmu Astronomi ummat Islam juga maju, Al Batani menghitung enklinasi ekleptik: 23.35 derajad (pengukuran sekarang 23,27 derajad).
Dunia juga mengenal Ibnu Sina (Avicenna) yang karyanya “Al Qanun fit Thibbi” diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerard de Cremone (tahun 1187), yang sampai zaman Renaissance tetap jadi textbook di fakultas kedokteran Eropa. Ar Razi (Razes) adalah seorang jenius multidisiplin. Dia bukan hanya dokter, tapi juga ahli fisika, filosof, ahli theologi, dan ahli syair.
Di Eropa juga mengenal Ibnu Rusyid (Averroes) yang ahli dalam filsafat. Dan masih banyak lagi kemajuan yang dicapai oleh ummat Islam di bidang ilmu pengetahuan.
Tapi sekarang semua itu hanya tinggal kenangan, ummat Islam sekarang tidak lagi menghargai ilmu pengetahuan, malas untuk belajar, perintah Allah dan motivasi Rasul untuk terus mencari ilmu, hanya sekedar retorika belaka, sehingga tidak mengheran jika umat Islam kini menjadi bangsa yang terbelakang dan selalu tersingkirkan dalam persaingan global.
Kondisi yang demikian ini tidak boleh terus terjadi, ummat Islam kini harus bangkit, ilmu pengetahuan yang sesungguhnya milik kita harus diambil kembali, yakni dengan cara terus belajar, belajar sepanjang hayat, dari lahir hingga liang lahat.
Dalam pandangan Al Ghazali, sesungguhnya menuntut ilmu itu ada yang fardu ‘ain (wajib bagi setiap Muslim) ada juga yang fardu kifayah (paling tidak ada segolongan ummat Islam yang mempelajarinya. Ilmu agama tentang mana yang wajib dan mana yang halal seperti cara shalat yang benar itu adalah wajib bagi setiap muslim. Jangan sampai ada seorang ahli Matematika, tapi cara shalat ataupun mengaji dia tidak tahu. Adapun ilmu yang memberikan manfaat bagi ummat Islam seperti kedokteran yang mampu menyelamatkan jiwa manusia, ataupun ilmu teknologi persenjataan seperti pembuatan tank dan pesawat tempur agar ummat Islam bisa mempertahankan diri dari serangan musuh adalah fardu kifayah. Paling tidak ada segolongan muslim yang harus menguasainya.

E. KEDUDUKAN ILMU DALAM ISLAM
Islam memberikan perhatian dan penghargaan yang besar terhadap masalah ilmu, orang-orang yang menuntut ilmu (tholabul ilmi) dan para ahlinya (orang-orang yang berilmu:ulama). Dalam konsepsi Islam orang berilmu itu berbeda dengan orang yang tidak berilmu, dikatakan bahwa orang yang berilmu itu lebih baik dan lebih terhormat daripada orang yang tidak memiliki ilmu (bodoh), bagi orang yang berilmu (ahli ilmu/ulama) maka Allah ta’ala akan mengangkat derajatnya pada kedudukan yang tinggi dan terhormat, firman-Nya yang mengatakan: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” .
Dalam sebuah hadist shahih riwayat Bukhari dan Muslim juga disebutkan bahwasanya Baginda Nabi S.a.w mengatakan bahwa kita (umat Islam) tidak boleh ber-iri hati terkecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap seseorang yang dikaruniai Allah harta kekayaan tapi dia memanfaatkannya untuk urusan kebenaran (kebaikan) dan seseorang yang diberikan ilmu pengetahuan oleh Allah lalu dia memanfaatkannya (untuk kebenaran) serta mengajarkannya kepada orang lain” . Yang demikian ini sungguh-sungguh menunjukan pada kita akan betapa tinggi dan luhurnya kedudukan ilmu, oran-orang yang menuntut ilmu (tholabul ilmi) dan orang-orang yang berilmu (ulama).
Ilmu adalah hal terpenting dan paling berharga bagi kehidupan manusia, dan tidak ada yang lebih penting dan berharga daripada-nya, sebab ilmu selain sebagai syarat mutlak bagi kita untuk dapat mencapai kebahagian dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat, ilmu juga dapat meluruskan hati dan memberikan petunjuk pada jalan yang lurus.
Selain daripada itu, dengan kita memiliki ilmu maka kita akan menjadi seorang yang arif dan bijaksana dalam bertindak, dan mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai “khalifah Allah” pada satu sisi, dan sebagai “Abdullah” pada sisi yang lain, dengan baik dan sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala.
Lebih mendalam, berkenaan dengan kelebihan dan keistimewaan ilmu, orang berilmu dan orang-orang yang bersedia mencarinya (pelajar), diantaranya adalah:
 Ilmu memudahkan jalan bagi kita untuk menuju (mendapatkan) surga Allah,
 Menuntut ilmu adalah bagian daripada “Jihad Fisabilillah” yang sangat utama,
 Ahli ilmu (ulama;orang berilmu), yang bersedia mengajarkan pada sesamanya, maka mereka adalah orang yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik dan utama,
 Mencari ilmu akan menjadikan kita orang yang arif dan bijkasana dalam bersikap dan bertindak, serta akan menyelamatkan kita dari kecelakaan dan kebinasaan,
 Ilmu merupakan syarat utama syah atau tidaknya amal ibadah, ini artinya kita haruslah memiliki ilmu (berilmu) sebelum beramal dan berkata, karena perbuatan dan perkataan tidak akan dinilai disisi Allah Ta’ala sebagai suatu ibadah jika tidak sesuai dengan syari’at, sedangkan kita tidaklah akan mengetahui apakah amalan yang itu sesuai dengan syari’at atau tidak melainkan dengan ilmu.
 Ibadah yang paling utama (afdhal) adalah pemahaman atas sesuatu secara benar dan mendalam
 Memiliki Ilmu pengetahuan yang berlebih adalah lebih baik daripada ibadah yang berlebihan, dan ilmu yang sedikit itu lebih baik daripada ibadah yang banyak”
 Mengajarkan satu ayat dari Kitabullah lebih baik daripada shalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik daripada shalat seribu raka'at,
 Ilmu akan menjauhkan kita dari laknat dan murka Allah Ta’ala,
 Mencari ilmu mendatangkan rahmat dan ampunan Allah, diridhai para Malaikat dan seluruh mahluk Allah akan memintakan ampunan atas dosa-dosa para penuntut ilmu,”
 Ilmu merupakan sesuatu yang paling berharga, dan tidak ada hal yang lebih baik, lebih berharga dan lebih bermanfaat bagi manusia selain daripada ilmu pengetahuan, sebab ilmu akan memelihara kita dari kesesatan dan kecelakaan, dan merupakan beban bawaan yang tidak berat, bahkan akan semakin bertambah bila diberikan atau digunakan, serta merupakan amalan yang akan tetap mengalir pahalanya, meskipun kita telah wafat,
 Memiliki Ilmu adalah kebutuhan Rohaniah yang sangat mendasar kita ,
Berkenaan dengan kelebihan ilmu dibandingkan dengan harta benda dan perhiasan duniawi lainya, Sayidina Ali bin Abu Tholib, sahabat sekaligus menantu tercinta Baginda Rasul S.a.w, juga mengatakan bahwa:
 Ilmu itu lebih baik dari pada harta karena ilmu adalah warisan para Nabi, sedangkan harta adalah warisan Qorun, Fir’aun dan sebagainya
 Ilmu lebih baik dari pada harta sebab ilmu menjaga kita, sementara harta haruslah kita yang menjaga
 Ilmu lebih baik dari pada harta, karena orang yang banyak harta akan banyak musuhnya sedangkan orang yang yang berilmu akan banyak kawannya.
 Ilmu lebih baik dari pada harta, karena ilmu apabila diamalkan akan semakin bertambah sedangkan harta apabila diamalkan akan berkurang.
 Ilmu lebih baik dari harta, karena orang yang berharta akan mendapatkan julukan kemit, medit, kikir dan bakhil, sedangkan orang yang berilmu akan dijuluki dan dipanggil dengan nama yang mulia.
 Ilmu lebih baik dari harta, karena harta harus kita jaga dari pencuri, sedangkan ilmu tidak perlu kita jaga
 Ilmu lebih baik dari harta, karena orang yang memiliki harta kelak akan di hisab di hari kiamat, sedangkan ilmu dapat memberikan syafaat pada orang yang memiliki kelak di hari kiamat
 Ilmu lebih baik dari pada harta, karena harta dapat habis sedangkan ilmu tidak akan pernah habis
 Ilmu lebih baik dari harta karena harta dapat menjadikan kerasnya hati, sombong, angkuh dan sebagainya, sedangkan ilmu itu menjadikan terangnya hati
 Ilmu lebih baik dari pada harta, karena orang yang yang berharta kadang-kadang meniru sifat ketuhananan dan menuhankan harta, sedangkan orang yang berilmu karena ilmu itu menekankan sifat ubudiah.
Al-Qur’an juga mengatakan bahwa orang yang tidak berilmu dengan orang yang berilmu laksanakan gelap dengan terang, seperti orang buta dengan orang yang dapat melihat dengan terang. Dan bahkan al-Qur’an mengibaratkan orang yang tidak berilmu sebagai orang yang mati, sebaliknya orang yang memiliki ilmu pengetahuan adalah orang yang hidup. Dikatakan pula bahwa kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang 'abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang.
Perbandingan-perbandingan ini benar-benar menunjukan kepada kita betapa Allah sangat menghargai ilmu pengetahuan, orang-orang yang berilmu (ulama) dan para penuntut ilmu yang ihklas.

DAFTAR RUJUKAN

Abdul Azhim, Ali, Epistemologi dan Aksiologi Ilmu Perspektif Islam, Penerj. Khalilullah A.M.H, Rosda, Bandung: 1984
Abdul Halim el-Muhammady, Januari 1984. “Pendidikan Islam Skop Dan Matlamatnya”, Jurnal pendidikan, Tahun 1, bil. 1, ABIM, Selangor,
Achmad Sunarto “Himpunan Hadist Qudsi” Cetakan: I-2000 Penerbit: Setia Kawan
Ahmad Maftuh “Mutiara Hadist Shahih Bukhari”, Bintang Pelajar, Gresik
Al Bayan “Hadist Riwayat Bukhari Dan Muslim” keluaran pertama 01. Hak cipta Sakhr.1996
Al Ghazali, Muhamad 1990 “ Mukhtasyar Ihya’ Ulumudin”. Penerbit Muasasah Al- Kutub Al- Tsaqafiyah. Cet I Bairut.
----------------------------, 1994. “Ihya Ulumudin”, terj, Semarang : Penerbit Asy Syifa’
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Ashqolani “Kitab Hadits Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam”
Depag RI. ‘Al Qur’an dan Terjemahannya” Toha putra. Semarang 1989
Departemen Agama RI., Al Quran dan Terjemahnya, Khadim Al-Haramain Asy-Syarifain, Madinah Munawarah: 1411 H.
Dr. Muhammad Faiz Almath “1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad), Penerbit Gema Insani Press
Dr. Redja Muyoharjo, “Filsafat Pendidikan; Suatu Pengantar, P. RosdaKarya, Bandung 2006
Drs H Fuad Ihsan, 1996 “Dasar-dasar Kependidikan” Penerbit.
HaditsWeb (kumpulan hadist & referensi belajar hadist) disusun oleh Sofyan Efendi Maret 2006. http://opi.110mb.com
Hermen Harrel Horne, 1939. “The Democratic Philosophy of Education, Mac Millan & Co.,New York,
http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan
http://syiarislam.wordpress.com
http://www.khairuddinhsb.blogspot.com
http://www.pai07aw.blogspot.com
John Dewey, 1910. Democracy and Education, Mac Millan & Co., New York,
M. Nashiruddin Al-Albani “Ringkasan Shahih Bukhari” Gema Insani Press
Qardhawy, Yusuf, As-Sunnah Sumber IPTEK dan Peradaban, penerj. Setiawan Budi Utomo, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta: 1998.
Ustadz Abu Isa Abdulloh bin Salam “Ringkasan Syarah Arba’in An-Nawawi”

Minggu, 16 Agustus 2009

DUNIA DAPAT MELUPAKAN AKHIRAT


Ditulis OLEH Haryanto (08024)

I. PENDAHULUAN
Di dunia perjalanan manusia melalui proses yang panjang, dimulai bayi yang hanya minum air susu ibu lalu tubuh menjadi anak-anak, remaja dan baligh. Selanjutnya menjadi dewasa, tua dan berakhir dengan datangnya kematian. Proses ini tidak berjalan sama antara satu orang dengan yang lainnya, karena kematian dapat datang setiap saat, kapan saja dan tidak mengenal usia. Seseorang boleh meninggal saat masih bayi, ketika masa anak-anak, atau ketika sudah remaja dan dewasa, ketika sudah tua bahkan pikun.
Selaian Alqur’an menerngkan proses kehidupan manusia di alam dunia, AlQuran juga mengungkapkan bahwa diciptakanya manusia, kemudian dijinkan untuk menetap beberapa lama di alam dunia, bukanlah untuk main-main atau hanya sekedar pelengkap bagi kehidupan dunia ini saja, akan tetapi Allah menciptakan dan telah menetapkan untuk apa dan mengapa manusia dicipta dengan segala keunggulan dan kesempurnaanya. Dalam konteks ini setidaknya ada dua tujuan paling utama untuk apa dan mengapa manusia diciptakan, kemudian ditempatkan di bumi, yakni;
Pertama, untuk menjadi hamba Allah atau (Abdullah), dalam kedudukanya sebagai hamba Allah ini, manusia memiliki tugas dan kewajiban utama, yakni menyembah dan mengabdikan diri hanya kepada-Nya. Hal ini sebagaimana yang telah Allah tegaskan dalam firman-Nya:
      
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Ad-Dzaariyat : 56).
Kedua, sebagai wakil Allah dimuka bumi atau (khalifah fil ardy), tujuan ini sebagaimana yang terungkap dalam dialog antara Allah dan Malaikat, di ketika Allah hendak menciptakan manusia pertama (Adam), dan kehendak-Nya tersebut disampaikan kepada para Malaikat. Dihadapan para Malaikat Allah Ta’ala berfirman:
                     •         

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka (para malaikat) berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS. Al-Baqarah : 30)
Mengutip pendapat Qurais Shihab, Amin Syukur (2000:166) mengatakan, bahwa surat al-Baqarah ayat 30 tersebut, terdapat tiga kata kunci, yaitu “ja’ilun”, “al ard” dan “khalifah” (manusia). Disini ada hubungan segitiga antara Tuhan, alam dan manusia. Tuhan telah memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengelola alam semesta dan Tuhan juga telah menaklukan alam kepada manusia.
Dan agar manusia dapat melaksanakan tugas yang dibebankan Allah dengan baik, maka Allah Ta’ala melengkapi manusia dengan perangkat pedoman hidup agar dalam menjalani hidupnya di muka bumi tidak tersesat. Kepada manusia Allah telah mengutus rasulNya, menurunkan wahyu Al-Qur’an dan hadits sebagai penjelas, agar manusia dapat mengaplikasikan pedoman itu secara jelas tanpa keraguan, Allah juga mengkarunia beberapa kekuatan hebat (potensi) yang denganya manusia dapat mengelola dan memanfaatkan bumi sesuai dengan kehendak sang pencipta.

II. PEMBAHASAN
A. Hakikat Dunia
Dunia merupakan medan ujian bagi manusia, bukan medan untuk pemuas kesenangan sesaat. Dunia adalah tempat persinggahan yang sementara saja, tidak kekal untuk selamanya, segala kesenangan dunia bersifat semu dan nisbi. Dalam hal ini Yunus bin Abi Ubaid mengatakan bahwa, kehidupan dunia hanya bisa disamakan dengan orang yang tidur, dalam mimpinya melihat hal-hal yang ia senangi sekaligus yang ia benci, tapi ketika sedang menikmatinya, tiba-tiba ia terjaga." Suka-duka hidup ini semisal mimpi-mimpi itu. Sedangkan terjaga dari mimpi adalah misal dari kematian.
Dan Umar bin Abdul-'Aziz berakta: "Dunia itu sesungguhnya bukan tempat yang kekal untuk kita. Allah sendiri telah menakdirkannya fana, dan kepada para penghuninya telah digariskannya hanya melewatinya saja."
Lebih mendalam, Al-Hasan juga prnah menjelaskan tentang hakikat dunia ia berkata: “Alangkah nikmatnya kehidupan alam dunia bagi orang-orang mukmin. Karena mereka senantiasa berbuat dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan surga. Dan sungguh keji dunia bagi orang kafir dan munafik, karena mereka membiarkan waktu malamnya berlalu, sementara bekalnya akan membawanya ke neraka." Karena mereka senantiasa berbuat dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan surga. Dan sungguh keji dunia bagi orang kafir dan munafik, karena mereka membiarkan waktu malamnya berlalu, sementara bekalnya akan membawanya ke neraka."
Oleh karena dunia hanyalah persinggahan yang sementara, dan kita ini ternyata hanyalah seorang pengembara yang harus kembali ke tanah airnya, maka kita harus mepersiapkan bekal yang cukup, bekal yang kita butuhkan ini bukan berupa harta, istri yang cantik atau anak-anak yang tampan dan manis, tapi bekal yang harus kita siapkan adalah takwa, taqwa kepada Allah Ta’ala.
Sehubungan dengan hal ini dalam salah satu khutbahnya sayidina Umar Ibnul-Khaththab mengatakan: "Setiap perjalanan mesti ada bekalnya, maka bekalilah perjalanan Anda dari dunia ke akhirat dengan takwa. Jadilah seperti orang yang melihat dengan mata kepalanya adzab yang Allah persiapkan baginya untuk kemudian disadari dan tumbuh perasaan takut. Janganlah Anda terlalu lama membiarkan waktu berlalu sehingga hati Anda terlalu mengeras."
Dunia adalah alam yang fana dan bohong belaka, keindahan dunia Allah ciptakan dengan maksud agar manusia mengenal-Nya. Itulah maksud Allah SWT menciptakan akal. Adanya langit, matahari, bintang, bulan, lautan, gunung-gunung adalah agar manusia paham siapa yang menciptakannya. Agar akal manusia paham bahwa dibalik semua itu ada yang menciptakan dan yang mengaturnya. Maka nanti ketika kita mati, akal kita akan ditanyai untuk apa digunakan selama hidup di dunia. Tanggung jawab akal kita yang pertama harus kita tunaikan adalah bagaimana akal kita ini mengenal dan memahami Allah Swt.
Dunia ini adalah ibarat sebuah lubang kecil yang menghubungkan antara alam ruh dengan alam akhirat. Alam dunia diapit oleh dua alam yang memiliki dimensi yang besar sekali yaitu alam ruh dan alam akhirat. Alam ruh adalah alam dimana kita pernah tinggal dan berjanji dan mengakui bahwa Allah SWT adalah Tuhan semesta alam, namun ketika kita dihadirkan ke alam dunia (dilahirkan), maka sebagain diantara kita lupa akan janjinya (kontrak) yang telah kita buat dengan Allah itu.
Dunia adalah tempat persinggahan sementara yang sangat singkat waktunya. Dahulu Rasulullah SAW sering menasehatkan kepada para sahabatnya agar para sahabat senantiasa takut dan menangis akan kedahsyatan alam akhirat. Sehingga ketika Rasulullah menceritakan kedahsyatan alam akhirat para sahabat seperti benar-benar melihat alam akhirat dan kebanyakan mereka berjatuhan pingsan mendengarnya. Para sahabat senantiasa takut akan alam akhirat, sehingga mereka giat dan berlomba-lomba untuk berbuat amal shaleh agar mereka dapat selamat dari azab alam akhirat. Sholat mereka senantiasa membawa rasa takut dan cemas yang luar biasa. Sehingga tak jarang para sahabat dalam sholatnya dijumpai menangis menggigil karena takut akan Allah Swt dan alam akhirat. Sebaliknya kita sholat menangis karena takut akan miskin di dunia.
B. Bahaya Cinta Dunia Berlebihan
Dewasa ini begitu banyak manusia yang tertipu oleh kehidupan dunia, mempertuhankan harta duniawi dan beranggapan bahwa kenikmatan duniawi adalah segalanya, sehingga mereka rela bekerja begitu keras bahkan sampai 12 jam lebih sehari hanya untuk kebahagiaan di dunia. Namun sayangnya banyak yang tidak menyisakan setengah jam pun untuk kehidupan akhirat dengan zikir dan beribadah kepada Allah. Orang yang demikian ini dalam alQur’an dikatakan sebagai orang yang menjadikan agama sebagai main-main dan senda gurau. [Qs. Al A’raaf:51]
Bahkan ada yang tidak mau mengingat Allah sama sekali dan menganggap kehidupan akhirat hanyalah kebohongan yang hanya dipercaya oleh orang-orang yang fanatik agama.
Dan diantara manusia ada yang suka menumpuk harta dan berbangga tentang banyaknya harta dan anak. Padahal hidup manusia di dunia rata-rata tidak lebih dari 70 tahun. Setelah itu mereka mati dan masuk ke dalam lobang kubur. Jabatan, Harta dan anak tak berguna lagi bagi mereka ketika sudah dikubur.
                                          
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Haddid:20)
Sungguh kehidupan duniawi hanyalah permainan, karenanya orang yang mementingkan urusan duniawi semata-mata tanpa mementingkan urusan akhirat akan mendapat kerugian dan azab Allah. Allah berfirman:
                      •       •   
"Barang siapa mengkehendaki hidup di dunia, dan perhiasannya Kami sempurnakan pekerjaannya di dunia sedang mereka tiada mereka di rugikan. Tetapi tidak ada lagi bagi mereka di akhirat, melainkan neraka. Dan hapuslah apa- apa yang mereka perbuat di dunia dan binasalah apa- apa yang mereka amalkan." (QS.Hud: 15-16).
Mempertautkan hati dengan dunia, mencintai dan mengangap dunia segalanya adalah perbuatan yang benar-benar tercela dan membawa dampak yang sangat buruk bagi hidup dan kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Namun demikian hal ini bukan berarti kita harus mengebiri dan tidak mau sama sekali dengan urusan dunia, bukan demikian. Karena Allah itu indah dan Dia suka keindahan dan Allah suka jika pengaruh nikmat yang diberikan-Nya ada dan tampak pada seorang hamba. Hanya saja kita jangan berlebih-lebihan dan mubadzir serta menuruti segala kesenangan dunia dengan tidak semestinya. Dengan perkataan lain, Islam tetap menganjurkan kita untuk mencari kehidupan dunia, hanya saja hal tersebut jangan sampai menjadikan kita lupa akan Allah dan kehidupan akhirat. Bagaimanapun juga akhirat lebih baik dan lebih kekal. Dan kehidupan akhirat itulah kehidupan yang sejati.
C. Zuhud Terhadap Dunia
1. Sekilas Tentang Zuhud
Cinta terhadap dunia sungguh akan dapat melupakan kita dari allah dan kehidupan akhirat, oleh sebab itu seorang muslim tidak boleh terpaku hatinya terhadap persoalan/keindahan duniawi yang semu, sehingga melupakan Allah dan kehidupan akhirat yang kekal.
Dan karena itu pula, islam menganjurkan kita untuk Zuhud terhadap dunia, Zuhud dalam pandangan ulama Salaf adalah kondisi ketiadaan hasrat kepada dunia dan kekosongan hati dari ketergantungan terhadap dunia.
Untuk lebih memperdalam pengertian zuhud ini, maka akan dikutibkan beberapa pendapat ulama salaf tentang hal ini, Imam Ahmad mengatakan bahwa Zuhud terhadap dunia adalah pendek angan-angan”. Sedangakan Al-Junaid mengatakan jika Zuhud adalah menganggap dunia itu kecil dan menghilangkan bekasnya dari hati”. Dan menurut Abu Sulaiman Ad-Darani “Zuhud adalah meninggalkan apa-apa yang menyibukkanmu dari Allah”. Dalam pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Zuhud adalah meninggalkan apa-apa yang tak berfaidah bagi akhirat.
Kemudian jika kita menyimak Al-Qur’an dan Hadist ternyata cukup banyak anjuran agar kita Zuhud terhadap dunia, diantara ayat-ayat yang mendorong bersikap zuhud adalah, firman Allah dalam surat al-Hadid ayat 57 yang berbunyi: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbanggabangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS. Al-Hadid 57 : 20).
Dan juga firman Allah yang mengatakan:
                       
“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy-Syuuraa 42 : 20)
Adapun hadits-hadits Nabi Saw yang mendorong kepada zuhud terhadap dunia, menganggap kecil dunia dan menjauhkan diri dari dunia adalah Sabda baginda kepada Ibnu 'Umar Ra: “Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah orang yang asing dan seorang pengembara.” (HR. Bukhari). Dan juga sabda Rasul Saw yang mengatakan: “Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan ibarat seseorang di antara kalian yang memasukkan jarijemarinya ke dalam lautan samudera, maka lihatlah apa yang diperoleh darinya.” (HR Muslim).
Dan dalam hadist shahih yang diriwayatkan oleh Imam ath-Turmudzi dan Imam Ahmad, diunkapkan jika baginda Saw pernah bersabda: “Apakah urusanku dengan dunia ini, sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ibarat seorang pengembara yang sedang tidur di bawah naungan pohon pada hari yang panas, kemudian beristirahat lalu meninggalkannya.” (HR Turmudzi, Ahmad).

2. Hakikat dan Urgensi Zuhud
Zuhud terhadap dunia adalah sebagaimana yang diamalkan Rasulullah Saw dan sahabat-sahabat beliau. Zuhud bukanlah mengharamkan hal-hal yang baik dan mengabaikan harta, tidak pula zuhud itu berpakaian dengan pakaian yang kumal penuh tambalan. Zuhud bukanlah duduk bersantai-santai di rumah dan menunggu sedekah, karena sesungguhnya amal, usaha dan mencari nafkah yang halal adalah ibadah yang akan mendekatkan seorang hamba kepada Allah, dengan syarat menjadikan dunia hanya pada kedua tangannya tidak menjadikannya di dalam hatinya. Jika dunia itu terletak di tangan hamba bukan di hatinya, sama menurut pandangannya baik ketika ia sejahtera maupun sengsara.
Tidaklah ia bersuka cita dengan kesejahteraannya dan tidaklah pula ia berduka cita dengan kesengsaraannya.
Berkata Ibnul Qayyim dalam mensifati hakikat zuhud ini, “Tidaklah yang dimaksud dengan zuhud adalah menolak dunia, seperti kekuasaan, adalah Sulaiman dan Dawud ‘alaihima salam adalah termasuk orang terzuhud pada masanya, namun mereka memiliki harta, kerajaan dan para istri.
Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah manusia yang paling zuhud secara mutlak dan beliau memiliki sembilan istri. Ali bin ‘Abi Tholib, Abdurahman bin ‘Auf, Zubair bin Awwam dan 'Utsman bin ‘Affan Radhiallahu‘anhum, walaupun termasuk orang-orang yang zuhud namun mereka adalah orang-orang yang berharta.
Adalah termasuk kebaikan apa yang dikatakan tentang zuhud, perkataan yang baik atau selainnya, yaitu tidaklah termasuk zuhud terhadap dunia dengan mengharamkan yang halal dan mengabaikan harta. Namun, zuhud adalah menjadikan apa-apa yang di tangan Allah lebih kau yakini daripada apa-apa yang ada pada tanganmu.
Datang seorang lelaki kepada Al-Hasan dan berkata: Aku punya tetangga yang tidak maumakan ‘Faludzaj’ (semacam pudding atau agaragar,pent.). Berkata Hasan: Mengapa tidak mau? Orang itu menjawab: tetanggaku berkata, aku tak mampu memenuhi terima kasihnya. Berkata Hasan: Sesungguhnya tetanggamu itu jahil, apakah ia membalas terima kasihnya air yang dingin?!
Sesungguhnya zuhud terhadap dunia tidaklah sebatas perkataan-perkataan yang disukai semata, namun zuhud merupakan perkara yang harus bagi setiap orang yang menghendaki Ridha Allah beserta ganjaran surganya, mencukupkan diri dengan keutamaannya yang mana zuhud merupakan ikhtiarnya Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya. Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: Tidaklah sempurna hasrat kepada akhirat kecuali dengan zuhud terhadap dunia. Lebih memuliakan dunia daripada akhirat akan berimplikasi kerusakan pada keimanannya, atau pada akalnya, atau bahkan pada kedua-duanya.
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengesampingkan dunia di belakang punggungnya, demikian pula sahabat-sahabatnya, mereka menjauhkan hatinya dari dunia, mereka memperingatkan darinya dan tidak condong kepadanya, memusuhinya laksana penjara baginya bukan sebagai surga. Mereka zuhud dengan sebenar-benarnya zuhud, walaupun mereka ingin meraih segala rupa yang dicintai dari dunia, dan mencapai segala hal yang disukainya. Akan tetapi mereka mengetahui bahwa dunia itu negeri duka cita bukan negeri suka cita, mereka mengetahui bahwa dunia itu laksana awan pada musim panas yang akan lenyap sedikit demi sekdikit, ibarat impian khayalan yang takkan menyempurnakan kunjungan hingga diizinkan baginya bepergian.
Lebih jauh lagi, Ibnul Qayyim rahimahullah, juga berkata bahwasanya Zuhud itu bermacam-macam, di antaranya:
a) Zuhud terhadap perkara yang haram, dan hukumnya adalah fardhu ‘ain.
b) Zuhud terhadap syubuhat. Hukumnya menurut tingkatan kesyubuhatannya. Jika syubuhatnya kuat, maka hukumnya wajib dan jika syubuhatnya lemah, maka hukumnya mustahab/sunnah.
c) Zuhud dalam hal keutamaan, yaitu zuhud terhadap apa-apa yang tak bermanfaat dari ucapan, pandangan, pertanyaan , pertemuan, ataupun lainnya.
d) Zuhud terhadap manusia.
e) Zuhud terhadap diri sendiri, dengan cara mempermudah dirinya dalam beribadah di jalan Allah.
f) Zuhud terhadap perkara keseluruhan, yaitu zuhud terhadap perkara-perkara selain untuk Allah dan setiap perkara yang menyibukkanmu dari diri-Nya.
g) Dan zuhud yang paling utama adalah memelihara zuhud itu sendiri… hati yang bergantung pada syahwat maka tidak sah zuhud dan wara’nya.
Sedangkan Jalaludin Rahmat (1997:114) membagi zuhud dalam dua karakteristik, pertama, tidak menggantungkan kebahagian hidupnya dengan apa yang dimiliki, karena pola hidup yang demikian ini sangat merendahkan martbat manusia, kedua, kebahagian seorang zahid bukan terleta pada hal-hal yang bersifat material, tetapi lebih pada hal-hal yang bersifat spiritual.
Dan agar memperoleh zuhud ini, maka seseorang dapat melakukan berapa hal yang diantranya adalah:
Memandang dunia akan kesegeraan keberakhirannya, kefana’annya, kekurangannya, kehinaannya dan penuh sesaknya akan kesedihan, kesusahan dan kepayahan di dalamnya.
Memandang akhirat akan kesejahteraannya, kedatangannya yang pasti, kelanggengannya, kekekalannya dan kemuliaan di dalamnya yang penuh kebaikan-kebaikan.
Memperbanyak mengingat kematian dan negeri akhirat.
Mengantarkan jenazah sembari memikirkan penderitaan orang tua kita dan saudara-saudara kita. Mereka tidak membawa sesuatu apapun ke kuburan-kuburan mereka dari harta dunia, dan tidaklah pula bermanfaat kecuali amal-amal sholeh mereka.
Mencurakan segalanya demi akhirat, menetapinya dengan ketaatan kepada Allah dan mengisi waktuwaktunya dengan dzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an.
Lebih mendahulukan maslahat-maslahat agama di atas maslahat-maslahat dunia.
Berderma, berinfak dan memperbanyak sedekah.
Meninggalkan majlisnya ahli dunia dan menyibukkan diri dengan majelis-majelis akhirat.
Sederhana dalam makan, minum, tidur, tertawa dan bercanda.
Menelaah kisah-kisah para zahidin terutama sirah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan para sahabatnya (http://dear.to/abusalma)



III. PENUTUP
Sungguh teramat banyak ayat dan hadits yang membicarakan tentang sikap seorang mukmin terhadap harta dan dunia, namun yang penting bukan banyaknya ayat atau hadistnya, akan tetapi tujuan dari ayat dan hadits itu, yakni agar menjadi pengingat dan membangunkan kita keterlenaan, membuka hati dari tutup yang menyelimutinya karena terbuai oleh gemerlap dunia yang menipu, dan terus asyik terlena dengan segala kenikmatannya.
Seorang muslim tak perlu heran dan iri hati dengan pola kehidupan orang kafir yang mengumbar segala kesenangan dan kenikmatan duniawi, yang seakan bagi mereka tidak ada lagi kenikmatan yang lain, selain apa yang mereka nikmati di dunia ini, Allah berfirman: “Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang.Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS. 47:12)
Orang-orang kafir di akhirat tidak mendapatkan bagian sedikit pun, sedangkan orang-orang mukmin mereka hidup di dunia ini seperti layaknya seorang musafir yang melakukan perjalanan menuju akhirat, karena manusia tidak ada yang tahu kapan dia meninggalkan dunia ini menuju alam Barzakh, lalu ke kampung akhirat yang menjadi tujuan dan akhir dari perjalanannya.
Seorang mukmin meski menyadari bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara dan menyakini jika kematian pastilah akan datang, sehingga mendorong dirinya untuk menginfakkan harta kepada hal-hal yang memberikan manfaat untuk akhirat. Yakni dengan membelanjakannya dengan cara yang baik untuk keperluan diri dan keluarganya serta masyarakat dan kaum muslimin. Nabi Saw bersabda: "Bermegah-megahan (dalam harta, dan perkara dunia) telah melalaikan kamu semua." Lalu beliau bersabda; "Manusia mengatakan: ”Hartaku,hartaku! Padahal kamu tidak mempunyai harta selain apa yang telah kamu sedekahkan dan telah kamu lakukan, atau apa yang kamu makan lalu lenyap, dan apa (baju) yang kamu pakai lalu telah koyak." (Hr. Ath Tirmidzi)
Allah menjelaskan kepada kita tentang cara membelanjakan harta, yakni tujuannya untuk mencari akhirat supaya berhasil meraih surga. Namun di sisi lain, kita tidak melupakan bagian kita di dunia dengan mengambil harta yang dibolehkan sesuai kebutuhan. Dan tidak berlebihan dan tenggelam dalam buaian harta, sehingga segala sesuatu harus diukur dengan harta dan materi.
Sebagai seorang muslim kita juga meski menyadari bahwa seluruh nikmat, harta dan kekayaan apa saja yang kita miliki adalah dari sisi Allah subhanahu wata’ala, yang dititipkan dan dikuasakan kepada kita untuk menguji dan melihat apa yang kita lakukan terhadap titipan tersebut, yang nantinya kita akan ditanyai dari mana ia didapat dan ke mana dibelanjakan, sebagaiamana yang telah Rasulullah terangkan dalam sabdanya: "Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari Kiamat sehingga ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya apa yang di kerjakan dengannya, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan dan tentang badannya untuk apa dia pergunakan." (HR at-Tirmidzi)







SUMBER BACAAN
Abu Salma al-Atsari, “Dunia Ladang Bagi Akhirat”, Disusun oleh Departemen Ilmiah Darul Wathon,
Achmad Sunarto,2000 “Himpunan Hadist Qudsi” Cetakan: I- Penerbit: Setia Kawan
Ahmad, Maftuh “Mutiara Hadist Shahih Bukhari”, Bintang Pelajar, Gresik
Al Ghazali, Muhamad 1990 “ Mukhtasyar Ihya’ Ulumudin”. Penerbit Muasasah Al- Kutub Al- Tsaqafiyah. Cet I Bairut.
CD Room Al Bayan 1996 “Hadist Riwayat Bukhari Dan Muslim” keluaran pertama 01. Hak cipta Sakhr.
Depag RI,1989. ‘Al Qur’an dan Terjemahannya” Toha putra. Semarang
Dr. Ahmad bin Sulaiman al- Uraini. (Ibnu Djawari), “Tsalatsun majlisan fi irsyad al-ummah” tt,
Dr. Muhammad Faiz Almath “1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad), Penerbit Gema Insani Press
HaditsWeb (kumpulan hadist & referensi belajar hadist) disusun oleh Sofyan Efendi Maret 2006. http://opi.110mb.com
http://dear.to/abusalma
Rahmat, Jaluludin ”Renungan-Renungan Sufistik, Bandunng Mizan 1997,
Syukur, Amin “Zuhud Di Abad Modern” Pustaka pelajar. Yokyakarta 2000

Jumat, 14 Agustus 2009

MENGENAL ALAM MENUJU PENGENALAN TERHADAP ALLAH
Disusun oleh: Haryanto alfandi

PASCA UNSIQ)JAWA TENGAH DI WONOSOBO 2008

I. PENDAHULUAN
Sesungguhnya keberadaan Allah adalah hal nyata, yang tidak perlu diragukan lagi, banyak bukti yang menunjukan aka nada-nya Allah ta’ala, adanya alam dan manusia adalah salah satu bukti paling nyata, karena manusia dan alam tidak mungkin ada dengan sendiri atau menciptakan dirinya sendiri, melainkan alam dan manusia adalah mahluk (ciptaan), dan sebagai mahluk maka sudah pasti ada yang menciptakanya, dan yang telah menciptakannya adalah Dia Dzat yang MahaPencipta, Allah Azza Wa Jalla.
Dan untuk lebih mempertegas lagi akan keberadaan Allah sebagai sang pencipta dan penguasa tunggal semesta alam, disini akan dikutibkan sepenggal kisah yang sangat menarik mengenai hal ini, dikisahkan ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ke tanah air. Sesampainya dirumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, Kiai atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya pemuda itu mendapatkan orang tersebut, kemudian terjadilah dialog:
Pemuda : Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
Kyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda
Pemuda Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
Kyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya
Pemuda : Saya punya 3 buah pertanyaan
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dinamakan takdir
3. Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syetan Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?
Tiba-tiba Kyai tersebut menampar pipi si Pemuda dengan keras.
Pemuda Kenapa anda marah kepada saya?
Kyai : Saya tidak marah...Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya
Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti
Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda Tentu saja saya merasakan sakit
Kyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?
Pemuda : Ya
Kyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu !
Pemuda : Saya tidak bisa
Kyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama: kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.
Kyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
Pemuda : Tidak
Kyai : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?
Pemuda : Tidak
Kyai : Itulah yang dinamakan Takdir
Kyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
Pemuda : kulit
Kyai : Terbuat dari apa pipi anda?
Pemuda : kulit
Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : sakit
Kyai : Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, Jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan Menjadi tempat menyakitkan untuk syeitan.
Penggalan kisah diatas, memberikan pelajaran yang berharga bagi kita, bahwa meskiun kita tidak mampu melihat Allah dengan indera kita, meskipun kita tidak mengetahui hakikat wujud Tuhan, namun sesunguhnya kita dapat merasakan keberadaan-Nya. Seperti angin, sampai hari ini kita tidak bisa melihat angin (oksigen), apa warnanya dan bagiamana pula wujudnya, akan tetapi setiap saat kita membutuhkan dan merasakan akan adanya angin itu, karenanya tidak ada alas an lagi bagi manusia yang berakal dan mau mempergunakan akalnya dengan baik dan sehat untuk mengingkari akan adannya Allah, Tuhan Semesta alam.
Dan sebagai seorang muslim, maka kita tidak hanya dituntut untuk percaya kepada Allah, akan tetapi kita juga diharuskan untuk berupaya mengenali-Nya, karena sesungguhnya bangunan Iman dan Islam kita belumlah sempurna apabila kita tidak mengetahui/mengenali Allah dengan baik. Dimana hal ini dapat kita lakukan dengan berbagai jalan/cara, yakni dengan menelaah isi dan kandungan Al-Qur’an Al-kariim, mentafakuri segala ciptaan-Nya, dan dengan memikirkan alam semesta, termasuk diri kita sendiri.

II. PEMBAHASAN
A. Urgensi Mengenali Allah Azza Wa Jalla
Bagi seorang muslim mengenali Allah merupakan suatu keharusan dan sekaligus sebagai syarat utama bagi kesempurnaan iman dan islam kita. Karena jika seorang hamba yang menyembah Allah tidak mengenali-Nya dengan baik dan benar, maka ia tidak mungkin dapat menyembah dan berbakti terhadap-Nya sebagiamana yang Ia kehendaki, tidak hanya itu, tidak mengenal Allah juga dapat menyebabkan seseorang salah dalam mengadakan pengabdian terhadap-Nya, dan terjerumus pada kesyirikan seuatu tindakan paling sesat dan sangat dibenci Allah. Begitu bencinya Allah terhadap hal tersebut sampai-sampai dalam AlQur’an Allah memaklumkan jika Ia tidak akan mengampuni dosa syirik, Firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An Nisa:48)
Dalam salah satu sabdanya Nabi Saw juga pernah menyatakan bahwa syirik adalah dosa yang paling besar diantara dosa-dosa yang paling besar, hadist yang diriwayatkan Abu Bakrah Ra, mengatakan: “Ketika kami bersama Rasulullah Saw, baginda bersabda: “Mahukah aku ceritakan kepada kamu sebesar-besar dosa besar? Ia-nya tiga perkara, iaitu; mensyirikkan Allah, menghardik kedua ibu bapa dan bersaksi palsu atau kata-kata palsu.
Dan agar kita terhindarkan dari perbuatan terkutuk (syirik), dan salah kaprah dalam membaktikan diri kepada Allah, maka kita meski berupaya untuk menenal-Nya, dengan kita mengenal siapa sejatinya Allah maka selain kita akan dapat terhindarkan dari kesyirikan dalam menyembah Allah, juga merupakan syarat utama bagi kesmpurnaan Iman dan Islam kita, sebab bagaimana mungkin kita dapat yakin dan percaya kepada Allah (beriman) dengan sebenar-benarnya iman, apabila kita tidak mengetahui siapa sesungguhnya Dzat yang kita imani itu.
Lebih dari itu, mengenal Allah juga sebagai pintu gerbang bagi kita untuk lebih mencintai Allah, mencintai Rasulullah dan mencintai Risalah-nya (Islam), dengan mengenal Allah kita juga akan mampu melaksanakan ibadah yang Ia perintahkan dengan baik dan benar. Karena bagiamanalah mungkin kita akan dapat mengabdikan diri kepada Allah, jika kita tidak memiliki pengetahuan tentang-Nya, tentang sifat-sifat-Nya, nama-nama-Nya, keaguangan-Nya, kemurahan-Nya, kesucian-Nya, kemulian-Nya dan tentang tanda serta bukti akan keberadaan-Nya. Pendek kata, ibadah sebagai manifestasi pengabdian seorang hamba kepada Allah tidak akan bisa sempurna, jika kita tidak memiliki dasar dan pengetahuan tentang siapa sejatinya Tuhan yang kita sembah (Allah Azza Wa Jalla).
Sedemikian pentingnya mengenal Allah ini, maka Allah dan rasul-Nya menyeru dengan sangat agar seluruh umat manusia untuk berupaya mengenal dan mengetahui Allah, melalui berbagai jalan, baik dengan membaca dan menelaah isi dan kandungan AlQur’an, memikirkan alam semesta, memikirkan tentang diri sendiri dan sebagianya.
B. Tanda-Tanda Akan Adanya Allah Dialam Semesta
Selain dengan membaca al Qur’an, mentadaburkan, memahami makna yang terkandung didalamnya. Untuk mengenali Allah kita juga dapat dengan memikirkan (tafakur) terhadap segala bentuk ciptaaaan Allah yang tersebar di alam semesta ini. Karena sesungguhnya dalam segala bentuk yang telah Allah ciptakan baik yang terdapat di alam bawah, seperti bumi yang terhampar luas, lautan yang membentang, gunung-gunung yang menjulang, beranekaragam jenis binatang dan tumbuh-tumbuhan atau bahkan diri manusia, dan segala hal yang terdapat pada alam atas, semisal langit yang terhampar tanpa tiang, bintang-bintang yang berkerlipan menghiasai langit malam, bulan yang yang menerangai, matahari yang senantaisa datang memberikan kehangatan dan sebagainya adalah tanda-tanda akan adanya Allah, Tuhan yang telah menciptakan dan memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. Al baqarah 2
Lebih mendalam, berkenaan dengan bukti nyata akan adanya Allah, yang tersebar dalam alam semesta ini, dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Penciptaan Manusia
Salah satu tanda-tanda keagungan dan kemahabesaran Allah adalah diciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kesempurnnaanya. Sungguh dalam proses penciptaan manusia terdapat tanda-tanda keagungan dan kemahbesaran Allah bila kita berdedia memikirkanya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. (Qs. Ar-ruum: 20).
Dengan memikirkan tentang diri sendiri, maka kita akan memiliki pengetahuan tentang siapkah sesungguhnya Allah, dan baginda Nabi pun juga pernah mengatakan: “Barang siapa yang mengenal siapa dirinya maka ia akan mengenal siapa Tuhanya (Al Hadist).
2) Penciptaan Langit
Adanya langit yang terhampar tanpa sedikitpun penyangga, didalamnya beredaar matahari, bulan dan beribu bintang yang begitu indah untuk dipandang dan menyenangkan hati, yang dengannya kita memiliki pengetahuan tentang arah, bawah dan atas, utara dan selatan dan lain sebagainya, yang demikian ini juga merupakan bukti akan adanya Allah sanga pencipta, alQur’an mengungkapkan: “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu”. (Ar Rad:2).
Dan siapakah yang mampu menjalankan matahari, memberikan sinar kepadanya, memberikan cahaya pada bintang-bintang yang berkerlipan muka langit yang biru. Dimana ketika malam datang bulan pun ikut bertandang memberikan satu sinar lembut kepada umat manusia, sehingga manusia tidak berada dalam kegelapan, kalau bukan Tuhan yang Mahakuasa, Allah Azza Wa Jalla. Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Qs. Yunus: 5)
3) Gunung dan Lautan
Luasanya lautan yang menyimpan berbagai hal yang berguna bagi kehidupan manusia, dimana ikan-ikan berteberan didalamnya sebagai bahan makanan bagi manusia yang tidak habis-habisnya, perahu-perahu pun dapat berlayar dengan lancar di atasnya, ombak dan gelombang saling menyahut tiada henti, semua ini merupakan tanda-tanda akan adanya Tuhan, “Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur”. (QS. An Nahl:14)
4) Penciptaan bumi
Bumi tempat tinggal manusia, dengan tanah dan ladangnya yang subur, yang darinya tumbuh berbagai tumbuhan yang bermanfaat bagi manusia, diantara bagiannya berdiri gunung-gunung yang tegak berdiri, terdapat lembah dan jurang yang curam, terdapat dataran yang membentang, sungguh merupakan bukti kan adanya tuhan yang maha besar; “Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. (QS. Ar Rad:3).
5) Penciptaan binatang
Berbagai jenis bintang bertebaran, binatang yang bisa dimanfaatkan manusia, dapat dimakan dagingnya, dapat dipelihara sehingga membantu kehidupan manusia, semua ini adalah tanda-tanda akan kebesaran Tuhan yang telah memelihara dan meberikan mereka makan sehingga tetap bisa hidup. “Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya”. (QS.An Nahl:66).
6) Perngantian siang dan malam
Hanyalah Tuhan yang paling perkasa yang mampu menutup matahari dengan kegelapan (malam), kemudian menggantinya dengan bulan yang bersinar indah dan cantik, “Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Yunus:6).
7) Mendung yang membawa air hujan
Hujan yang turun ke wajah bumi dengan merata, menyuburkan sawah dan lading, memberi kesejukan pada manusia, dan dengannya pula binatang dan manusia dapat minum air yang bersih dan segar, juga bagian dari tanda-tanda akan adanya Allah ta’ala: “Allah Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (QS. Luqman: 10)
8) Aneka Ragam Jenis Tanaman
Berbagai tanaman dan tumbuhan yang hidup di lingkungan tempat tingggal kita, darinya manusia dapat mngambil manfaat dan berguna untuk melangsungan hidupnya adalah tanda-tanda akan adanya Allah yang MahaAgung; “Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.(QS. An Nahl:11).
C. Mengenal Allah Melalui Al-Qur’an
Al Qur’an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad dan Umat Islam pada umumnya, dimana mukjizat-nya selalu delaras dan dibenarkan oleh perkembangan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Ia (AlQur’an) adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul yang mulia, Ia adalah kitab samawi yang mendapat jaminan langsung dari Tuhan akan kesucian dan kemurniannya hingga akhir zaman, yang tidak mungkin dapat disesatkan dan ditukar waluapan satu huruf darinya. Jaminan kebenaran dan kesucian AlQur’an ini telah Allah tegaskan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan AlQur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Qs.Al hijr: 9)
AlQur’an adalah kalam (firman) Allah, yang benar-benar datang dan diturunkan daripada Allah kepada umat manusia untuk menjadi hujjah dan petunjuk bagi umat manusia dunia. “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An Nisa’:82)
Al Qur’an adalah kitab suci yang sangat mulia yang diperuntukan bagi umat manusia sedunia. Dialah kitab petunjuk dan rahmat bagi seluruh alam, yang akan menuntun dan membawa manusia pada jalan yang lurus dan benar, yakni jalan yang diridhai Allah jalan keselamatan dan kebahagan. Betapa tingginya nilai alQur’an di hadapan Allah dan betapa pentingnya Al Qur’an bagi kehidupan manusia, sehingga Allah memerintahkan agar al-Qur’an benar-benar dijadikan pegangan hidup manusia, senantiasa dibaca, direnungi makna dan kandungannya.
Melalui al qur’an inilah Allah menerangkan pada kita, siapa sejatinya Ia. Dan jika kita bersedia menyimak AlQur’an dengan lebih seksama, maka kita akan memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengetahui siapakan sesungguhnya Allah azza wa jalla. Menurut Al Qur’an bahwa:
1. Allah adalah Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi, yang mendatangkan terang (siang), yang kmudian mengiringinya dengan kegelapan (malam) (QS. Al Anam :1)
2. Allah adalah Tuhan pelindung dan penolong manusia, yang memberikan makan kepada seluruh mahluk dan tidak membutuhkan/ memerlukan makanan (QS. Alanam 14),
3. Allah adalah Tuhan yang telah menumbuhkan bijian-bijian menyuburkanya sehingga memberikan manfaat bagi kehidupan umat manusia, Dia pulalah yang menghidupkan (membangkitkan) manusia setelah matinya (QS. Al Anma: 95),
4. Allah adalah Tuhan yang telah menciptakan bintang-bintang sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia (QS. Al Anam: 97),
5. Allah adalah Tuhan yang menurunkan air hujan dari langit, dimana dengan hujan itu maka tumbuhah berbagai macam tumbuhan, pepohonan dan lain sebagainya, yang sangat bermanfaat bagi kehidupan kita umat manusia (QS. Al-Anam: 99),
6. Allah adalah Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam massa dan bersemayam di atas arsy (Qs. Al A’raf: 54)
7. Allah adalah Tuhan yang meniupkan angin dan menurunkan hujan sehingga dengan hujan itu suburlah tana-tanah yang tandus (QS. Al araf : 57)
8. Allah Adalah tuhan yang mengatur segala urusan di bumi maupun dilangit (QS. Yunus: 3),
9. Allah adalah Tuhan yang telah menciptakan matahari dan bulan serta menjadikannnya bersinar menerangi kehidupan umat manusia (QS. Yunus:5)
10. Allah adalah Tuhan yang melimpahkan (memberikan rezki) kepada semua mahluknya yang di bumi dan di langit (QS. Yunus:31)
11. Allah adalah Tuhan yang telah membagi alam menjadi dua keadaan, yakni malam dan siang (QS. Yunus: 67),
12. Allah adalah Tuhan yang telah menghamparkan langit tanpa tiang (QS. Ar rad: 2)
13. Allah Adalah Tuhan manusia yang telah menghamparkan bumi dengan gunung-gunung sebagai pasaknya, (QS. An nahl:15)
14. Dialah Allah yang telah memperlihatkan kilat dan menurunkan hujan sebagai harapan bagi manusia (QS. Al hijr: 12)
15. Allah adalah Tuhan yang telah menciptakan bintang-bintang sebagai penghias langit (QS. Al-hijr:16)
16. Allah adalah Tuhan yang telah menciptakan lautan dan menundukan lautan kepada manusia (QS. An-Nahl:140, QS. Al Furqan: 53)
17. Allah adalah Tuhan yang telah menghidupkan manusia dan akan mematikan manusia pada waktu yang telah ditentukann (QS. Al mukminuun :80)
18. Allah adalah Tuhan yang telah menciptakan bumi sekaligus sebagai penguasa tunggalnya, (QS. Al mukminuun : 84).
Dan untuk mengetahui sejatinya Allah dengan lebih mendalam, kita juga dapat membaca dan merenungi Asmaul Husna ( nama-nama Allah yang Agung) yang berjumlah sembilan puluh sembilan (99), dimana dari setiap nama adalah gambaran tentang sifat-sifat yang dimiliki Allah ta’ala (sesuai dengan sifat-sifat Allah ta’ala). Allah berfirman:
         
“Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang baik)”, (Qs. Thaaha:8)
Dan sesungguhnya masih sangat banyak dalil-dalil yang menunjukan siapakah sebenarnya Allah itu, oleh karenanya umat Islam hendaklah senantiasa membaca, merenungi dan meresapi makna yang terkandung dalam alQur’an sebagai alah satu jalan untuk dapat mengenal Allah Azza Wa Jalla.
D. Bertafakur Untuk Mengenal Allah
Sesunggunya Allah ta’ala telah menciptakan kita umat manusia dengan teramat sempurna melebihi mahluk lainnya. Berbagai potensi yang sangat besar Allah anugrahkan kepada manusia dan tidak Ia berikan kepada mahluk lain selainnya (manusia).
Diantara potensi terbesar yang kita miliki dan tidak dimiliki mahluk lain adalah potensi kecerdasan, karena itu kita harus memanfaatkan potensi kecerdasan ini untuk mengadakan pemikiran secara mendalam (bertafakur) tentang fonomena alam dan memikirkan tentang diri kita sendiri. Sebab berfikir dan memikirkan tentang alam dan tentang diri kita sendiri adalah perintah Allah yang memiliki manfaat yang sangat positif bagi hidup dan kehidupan kita.
Allah dan Rasul-Nya mengajak dan menganjurkan kita untuk memanfaat potensi kecerdasan (akal pikiran) untuk berfikir dan memikirkan (bertafakur) tentang segala sesuatu termasuk tentang diri kita sendiri, dibalik perintah untuk berfikir ini sesungguhnya tersimpan hikmah yang sangat besar bagi kita, selain sebagai bentuk dari dzikir kepada Allah yang sangat utama, memikirkan tentang alam semesta dan diri kita sendiri juga akan dapat menjadikan kita lebih mengenal (Ma’rifat) kepada Allah ta’ala. Dengan perkataan lain, jika kita bersedia memikirkan alam semesta dan diri kita sendiri maka kita akan memiliki pemahaman dan pengetahuan yang mendalam tentang siapa sesungguhnya Allah ta’ala. Sebagaiamna sabda Nabi s.a.w yang menyatakan: “Barang siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka dia akan mengenal siapa Tuhanya”
Dengan pengenalan terhadap Allah ini maka kita akan tahu dan mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab kita di dunia, baik tugas dan tanggung jawab kita sebagai khalifah Allah di muka bumi (“Khalifah Fil Ardh”), maupun sebagai hamba Allah (“Abdullah) dan sebagai mahluk social. Pende kata, dengan mengenali Allah sebagai Tuhan kita, maka kita akan mampu mengadakan dan menjalin hubungan dengan Allah (hubungan vertical) dan hubungan horizontal (hubungan dengan sesama manusia) dengan lebih baik, selaras, serasi dan seimbang.
Tafakur untuk mengenali Allah bukan berarti kita memikirkan tentang bagaimana dzat Allah, bagaimana rupa dan bentuk-nya, karena jika kita berupaya memikirkan dzat Allah maka sampai kapanpun kita tidak akan mampu mencapainya, akal kita sangat terbatas, pengetahuan kita ada batasnya. Bahkan jika seseorang berusaha memikirkan bagaimana dzat Allah justru akan sangat berbahaya bagi dirinya, karena dapat menghantarkannya pada keingkaran kepada Allah. Oleh karena berbagai keterbatasan-keterbatasan itulah Nabi pernah mengingatkan, dengan sabdanya: “Bertafkurlah tentang tanda-tanda adanya Allah, dan janganlah bertafakur tentang dzat Allah” (Hr Abu Nuaim)
Sesungguhnya bukti dan tanda akan adanya Tuhan yang MahaKuasa sangatlah banyak dan tersebar di seluruh alam semesta, bahkan dalam diri manusia sendiri terdapat tanda-tanda kekuasaann dan kemahabesaran Allah jika kita mau memikirkannya.
Proses pencarian Allah dengan memikirkan tentang fonomena alam yang ada di tengah-tengah kehidupan kita ini, secara mendasar sebenarnya telah diajarkan Nabiyullah Ibrahim as, dimana ketika beliau mengalami kebingungan tentang Tuhannya, beliau melihat dan memikirkan bintang, bulan, matahari dan seterusnya. Kisah pencarian Nabi Ibrahim dalam pengembaraan untuk menemukan Tuhan hingga pada tahap tauhid yang bersih, telah di abadikan dalam alQur’an,
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.
Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam".
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat".

Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (Al anam 75-78)
Demikianlah pelajaran yang dapat kita petik dari pengembaraan akal Nabi Ibrahim dalam mencari dan mengenali Tuhanya.
Tafakur atau memikirkan tentang tanda-tanda keagungan dan kemahabesaran Allah yang terkandung dialam semesta sunguh akan dapat mengantarkan kita untuk dapat mengenal Allah, dengan seluruh sifat-sifatnya yang sempurna, nama-nama-Nya yang baik keagungan-Nya, kemulian-Nya, kemahabesaran-Nya, kesucian-Nya, kasih saying-Nya, kemurkaan-Nya dan menganal pula perintah dan larangan yang telah Ia gariskan.
Tafakur juga akan mengarakan kita untuk mencapai tauhid yang bersih dari syirik, menumbuhkan perasaan cinta yang mendalam kepada Allah (mahabah illah), mencapai keimanan (keyakinan) yang benar dan sempurna dan akan sangat mebantu kita untuk dapat menjalankan ibadah atau pengabdian kepada Allah dengan lebih baik. Lebih mendalam lagi, tafakur juga akan membantu untuk membuka tabir hakekat, membedakan kebaikan dan keburukan, menghilangkan keragauan dan parsangka terhadap Allah dan akan memberikan pemahaman pada seseorang untuk mengenali yang haram atau yang halal, yang boleh dan yang tidak boleh untuk dilakukan. Tafakur juga akan memberikan ketenangan pikiran dan membuka mata hati seseorang.
Lebih mendalam, terkait dengan manfaat yang dapat kita peroleh dengan berfikir dan memikirkan (tafakur) tentang berbagai fonomena alam, tentang diri sendiri, tentang kalam Allah (Al Qur’an), Al Imam Ibnul Qayim pernah memberikan penjelasan:
1. Tafakur dapat mengantarkan seseorang untuk dapat mengenal Allah dengan seluruh sifat-sifat-Nya yang sempurna, nama-nama-Nya yang baik, keagungan-Nya, kemulian-Nya, kemahabesaran-Nya, kesucian-Nya, kasih sayang-Nya serta kemurkaan-Nya
2. Bertafakur dapat mengenalkan kita pada perintah dan larangan yang telah Ia gariskan.
3. Tafakur akan mengarakan kita untuk mencapai tauhid yang bersih dari syrik.
4. Tafakur menumbuhkan perasaan cinta yang mendalam kepada Allah (mahabah illah), mencapai keimanan (keyakinan) yang benar dan sempurna, sehingga akan sangat mebantu seseorang untuk dapat menjalankan ibadah atau pengabdian kepada-Nya dengan berhasil dan sempurna.
5. Tafakur akan membantu kita untuk membuka tabir hakekat segala sesuatu, membedakan kebaikan dan keburukan,
6. Tafakur akan dapat menghilangkan keraguan dan prasangka terhadap Allah dan akan memberikan pemahaman pada seseorang untuk mengenali yang haram atau yang halal, yang boleh dan yang tidak boleh untuk dilakukan.
7. Tafakur juga akan memberikan ketenangan pikiran dan membuka mata hati seseorang.







D A F T A R B A C A A N
Al Ghazali, Muhamad 1994. “Ihya Ulumudin”, terj, Semarang : Penerbit Asy Syifa’
Al Qatan, Manna Khalil, 1994. “Studi Ilmu Al Qur’an” (Pen Mudzakir) Lentera Nusa Jakarta.
Al Qur’an dan Terjemahannya, Depag RI. 1989. Al Qur’an dan Terjemahnya. Semarang : Toha putra.
Asy Say’arani, Sayyid Abdul Wahhab, 2001. “Menjadi Kekasih Tuhan” Mitra Pustaka, Jokjakarta.
Deperteman Agama RI, 2000 “Kapita Selekta Pengetahun Agama Islam” Depag Jakarta.
Mahtuh, Ahmad, 1986. “Mutiara Hadist Shahih Bukhari”, Bintang Pelajar, Gresik
Shihab, Muhamad Quraish, 2001. “Fatwa-Fatwa Seputar Wawasan Agama” Mizan : Bandung.
----------------------------------,1994 “Lentera Hati; Kisah dan Hikmah Kehidupan” Bandung : Mizan. Cet 1
-------------------------------------,1996 “Wawasan Al Qur’an, Tafsir Maudhu’i Atas Berbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Bandung.
----------------------------------,2001 “Fatwa-Fatwa Seputar Tafsir Al Qur’an” Mizan : Badung.
Sulaiman Al Kumay,2003. “99 Quotient: Cara Meraih Kemenangan dan Ketenangan Hidup Lewat Penerapan 99 Nama Allah”. Bandung : Mizan (jilid I).
----------------------------,2003. “99 Quotient:Cara Meraih Kemenangan dan Ketenangan Hidup lewat Penerapan 99 Nama Allah. Bandung : Mizan (jilid II).
HaditsWeb (kumpulan hadist & referensi belajar hadist) disusun oleh Sofyan Efendi Maret 2006. http://opi.110mb.com

Kamis, 13 Agustus 2009

PUISI

GUSTI

Gusti yang maha agung
Aku tahu jika engkau termat mencintaiku
Kau curahkan cinta dan kasih sayang yang besar untuk-ku
Kau berikan apa yang kuminta
Kau sampaikan apa yang ku harapkan

Namun memang aku manusia yang tak tau berbalas
Hamba yang menganiaya diri sendiri
Hamba yang membuat lubang untuk meneggalamkan diri
Aku yang yang membuka kesengsaran bagu diri sendiri

Oh yang rabbi
Gusti
Gusti pangeran yang maha agung

Iiblis yang telah k-kau nyatkan menjadi musuhku
Ternayta mampu menundukkan ku
Menuntunku pada birahi
Nafsu sesat
Keinginan laknat
Yang hanya akan mengantarkannku pada celaka

Oh ya rabbi
Gusti
Gusti allah
Pangeran dalam siang dan malam

Aku
Mengaharapkan
Maaf dan amapuanan-mu
Dari segala kesalahan dan kekhilafan yang selam aini menggoda dalam hidupku
Aku
Mengharapakan ampunanmu
Dari semua laku bejat dan langkah sesat
AMPUNKANLAH DOSA KAMI,
TUHAN
By Haryanto

Jiwa yang kontor penuh noda
Hati yang tertutup dengan kebencian
Rasa yang telah mati dari kebenaran
Laku dosa dan durjana
Memaksa berhiaskan di tengah perjalanan
Lumpur hitam yang pekat menutup mata untuk kebajikan
Dada sesak penuh dedam
Mematahkan semangat untuk berbakti dan mengabdi
Sungguh kami benar paham dan mengetahui
Jika setan menyesatkan
Namun kami terpikat
Dengan bujuk dan rayu akan kenikmatan sesaat
Kamipun telah di beritahukan
Jiwa turuti nafsu mengundang murka dari-Mu
Namun kami jadikan ia kawan
Kami yang lalai
Dalam berbakti
Sengaja dengan berani menerjang
Sebuah garis yang telah Engkau larang
Lalu kamipun tinggalkan
Jalan yang telah Engkau tunjukan
Tuhan
Namun dalam dada kami masih terbersit
Sedikit dari sisa kesadaran
Jika kami berdosa Dan kamipun Harapkan ampunan dari-Mu
Wahai Tuhanku
Ampunilah segala salah dan dosa kami manusia
Yang lalai dan melanggar
Dosa yang telah bertumpuk dan merekat dalam jiwa yang tak sadar

Har
Wsb, 16/04-05
AJAL TELAH TIBA

Di sudut dunia ini
Tergeletak satu mahluk kesayangan Tuhan
Dengan sudut bibir mengerucut
Kening berkerut dan mulut tertutup

Kekuatann yang dimilikinya telah lumpuh
Bersama usia yang semakin senja
Kekuasaannya berganti kelemahan
Dan rambutpun kian tertunduk
Kesombangan dan keanggkuhan yang dulu meraja
Kini telah tiada

Kekayaan yang disembahnya
Tak kuasa memberikan pertolongan yang berguna

Apa yang bisa Ia lakukan
Dengan harta dan permata indah yang ada
Tiada

Bola mata yang telah layu
Mengandung takut yang hebat di sela-sela harap
Belas kasih pada yang kuasa
Yang bertahun-tahun terlupakan.
BERTAHANLAH UNTUK HADAPI KEHIDUPAN
Dalam kehiupan kita, tidaklah bisa kita terlepaskan dari suatu yang disebut dengan penderitaan. Derita sebab asa dan cita yang tak tercapai, lara karena cinta yang terlupakan, sedih ditingggalkan harapan yang telah bertahun tersimpan. Sakit dan lara adalah bunga dari kehidupan yang kita jalani. Hadapilah semuanya dengan hati terbuka, dengan dada terbentang dengan senjata kesabaran.
Kesedihan yang kita alami, derita yang sedang menerpa, sakit yang menggigit pastilah akan berhenti pada suatu hari yang telah di pastikan. Karena jika ada kesulitan pasti akan berganti dengan kemudahan. Itulah janjai Tuhan kita yang tiada pernah akan mengingkari janji.
Marilah berawal dari hari ini, bersama kita lupakan kenangan pahit yang menyayat dalam dada. Lupakanlah kesedihan yang ada dan carilah arti kehidupanmu mulai saat ini.
Dan jangan berputus asa dari keberhasilan sebab tidak ada orang yang putus asa akan menuani keberhasilan yang ada hanyalah kegundahan.
Bersabar dan tenang hadapi kenyataan yang pahit sekalipun. Pahit itu takan selamanya suatu saat akan beerubah menjadi manis atau asin.
Mintalah kepada yang paling memiliki untuk di beri.
Jangan cemburu pada orang lain yang sedang berada di puncak tangga.Berilah kesadarn pada hatimu bila orang yang berada di puncak pun pasti khan turun.
Keluhkanlah bebanmu pada yang maha mendegarkan keluhan dan tiada khan dapati Ia bosan.
Ungkapkanlah dan ceritakanlah pada yang maha mendengarkan tentang kehidupan yang sedang kau jalani.
Mintalah pada sang pemberi tentang kebutuhan di kehidupanmu dengan dorongan tyakin bila ia akan memberikan yang terbaik dari yang kau pinta.
Tangisilah hidupmu yang selalu berkurang dari hari kehari tapi amalmu tiada kemujuan, jangan kau tangisi kemiskinanmu tapi tangisilah ketidak artiamu dalam hidup yang sedang kau lampui.
Bertahanlah dari yang sedang di alami,